03/05/13

Antara fiksi dan realita

     Ada sebuah cerita dalam buletin mahasiswa Fakultas Psikologi yang cukup menyentil, saya rasa. Cerita itu berupa komik satu halaman berjudul "Antara Fiksi dan Realita" yang sepertinya selalu ditampilkan dalam tiap penerbitan buletin tersebut dengan judul utama "Si Komet".
     Jadi alurnya begini, Komet merasa iba pada seorang anak yang harus mengemis demi sesuap nasi yang saat itu sedang diputar di televisi. Seketika sang ibu meminta Komet berbelanja di pasar dan memberinya uang untuk belanja tersebut yang mungkin masih bersisa untuknya.
     Setelah Komet selesai berbelanja, seorang anak kecil yang sedang jongkok menarik bajunya dan berharap agar Komet mengasihani kondisinya yang belum makan selama dua hari. Namun akhirnya Komet hanya berlalu dan lebih memilih uang sisa belanjaan tadi digunakan untuk merental film saja.
     Di akhir cerita, terdapat kalimat "Terkadang kita mampu menitihkan air mata untuk sebuah fiksi, tapi tidak untuk realita".
Miris? Ya, pasti. Yang menyedihkan lagi, itu sering terjadi pada saya.

Tulisan ini bukan bermaksud memamerkan keprihatinan dan penyesalan saya, just share for a better self.

3 komentar: