Malam
mungkin adalah waktu yang paling menyenangkan untuk berada di sekre. Hawa sejuk
angin malam, suasana kampus yang tidak begitu ramai, wi-fi yang kencang meski jarang terjangkau di sekre, kadang
ditemani lagu-lagu yang diputar melalui speaker
dengan volume yang kebangetan, atau
nyanyian dengan iringan gitar oleh para penghuni sekre. Dan satu lagi yang tak
pernah habis, adalah obrolan-obrolan tentang apa saja yang bahkan sering
diulang-ulang, yang bosan tak bosan tetap saja diperdengarkan dan diperbincangkan.
Obrolan yang tak pernah habis itu termasuk obrolan mengenai film.
Mas
Suwung, seorang anggota luar biasa Majestic-55, tiba-tiba membicarakan tentang
sebuah film yang dianggapnya bagus, yang bertemakan survival. Dengan gayanya yang khas, terbata-bata ia mengatakan, “Anak GH (re: gunung hutan) wajib nonton film
ini.” Sebenarnya saya tidak terlalu ingin tahu tentang filmnya, tapi
besok-besoknya ia masih saja menceritakan tentang kekagumannya terhadap film
tersebut. Saya pun coba mengetikkan “The Edge” di google. Di sebelah saya Mas Suwung melongokan kepalanya ke arah
laptop, ia terlihat bersemangat. Ia pun bertanya, “Ada po filmnya di internet? Bisa didownload po? Film lama banget itu.”
Sambil menahan ketawa saya membalas, “Mas,
mas, di internet film setua apapun ada, yang penting koneksinya aja nih.”
Ia pun puas saat saya berhasil mendapatkan download
link film tersebut di torrent.
Baru saya ketahui ia menontonnya pertama dan terakhir kali pada 2011 lalu.
Akhirnya
dua hari kemudian filmnya selesai diunduh. Tidak, saya tidak segila itu
menunggu dua hari hanya untuk mengunduh sebuah film. Tentu saja saya meng-resume-nya saat mengaktifkan laptop dan
kebetulan ada koneksi. Ketika mas Suwung ada di sekre, saya segera melapor
padanya. Tak sabar, ia meminta untuk menonton saat itu juga. Dan kami pun mulai
menonton film tersebut, yang sampai ceritanya berakhir masih dengan setia ditemani
oleh Kaka Sarno.
Jadi
begini ceritanya saudara-saudara,