“Mencintaimu harus menjelma aku."
Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar baris itu?
Apa yang kautafsir detik itu juga?
Karena aku, saat kali pertama mendengarnya--bukan membacanya--telah menemukan tafsiranku sendiri
Saat itu, di selatan provinsi D.I. Yogyakarta, tahun pertamaku kuliah
Kami di atas melihat ke bawah sana, Pantai Parangtritis, di suatu pagi yang cerah
Cantik sekali
Aku membaringkan tubuhku di tepi landasan menatap langit
Dua seniorku asyik berbincang tentang hal-hal yang kurasa seru
Hanya sedikit yang bisa kuingat
Karena aku lebih banyak melamun daripada mendengar
Lagian, dalam percakapan tersebut, aku tidak dilibatkan
Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar baris itu?
Apa yang kautafsir detik itu juga?
Karena aku, saat kali pertama mendengarnya--bukan membacanya--telah menemukan tafsiranku sendiri
Saat itu, di selatan provinsi D.I. Yogyakarta, tahun pertamaku kuliah
Kami di atas melihat ke bawah sana, Pantai Parangtritis, di suatu pagi yang cerah
Cantik sekali
Aku membaringkan tubuhku di tepi landasan menatap langit
Dua seniorku asyik berbincang tentang hal-hal yang kurasa seru
Hanya sedikit yang bisa kuingat
Karena aku lebih banyak melamun daripada mendengar
Lagian, dalam percakapan tersebut, aku tidak dilibatkan